Kisah Tentara Libanon Selama Menjadi Tawanan Jabhah Nusrah

George al-Khoury adalah seorang tentara Lebanon. Selama berhari-hari ia terus menangis setelah seorang rekannya sesama tentara ditawan oleh mujahidin Jabhah Nusrah. Masa-masa itu merupakan titik terendah kepedihan yang ia alami selama menjalani status sebagai tawanan.

George al-Khoury

Kini, George sudah kembali dan berada di rumahnya di Lebanon utara, seolah ia tak percaya bahwa dirinya masih hidup dan dalam keadaan selamat. “Oh Tuhan, berapa lama saya sudah menunggu untuk bisa melihat putraku, Michael,” ungkap al-Khoury di ruang tamu rumahnya di Kobayat dengan ditemani bersama ibu, istri, dan anak keduanya, Andrew. Mereka semua duduk mengelilingi George.

Prajurit berusia 30 tahun ini merupakan salah satu di antara puluhan anggota polisi dan tentara Lebanon yang diculik oleh pejuang Jabhah Nusrah, cabang al-Qaidah di Suriah dan pejuang ISIS di daerah Arsal, sebuah kota di perbatasan Lebanon – Suriah pada bulan Agustus 2014 silam.

Setelah berbulan-bulan melewati negosiasi yang gagal serta upaya permohonan dari pihak keluarganya yang sudah putus asa, JN akhirnya membebaskan 16 tawanan mereka untuk ditukar dengan pembebasan kaum muslimin dan mujahidin termasuk mantan istri beserta anak perempuan pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi yang ditawan di penjara-penjara Lebanon.

Mulanya Enggan Jadi Tentara
George Al-Khoury mulai bergabung dalam satuan tentara pada tahun 2004 saat terkena wajib militer di mana ia sebenarnya enggan memenuhi kewajibannya tersebut. Namun, perjalanan hidup akhirnya membuat dia memilih untuk terus mengabdi di dunia ketentaraan setelah merasa nyaman ditempatkan di posisi yang menurutnya mudah, yaitu bertugas di rumah sakit militer.

Namun pada tahun 2014, ia tidak mengira akan ditugaskan ke lokasi yang sedang memanas di Arsal. Arsal adalah sebuah kota di Lebanon bagian timur di mana konflik di negara tetangganya Suriah terus bergejolak di mana ketegangan semakin meningkat.

Pada suatu hari di sebuah lokasi pada tanggal 2 Agustus 2014, saat itulah kehidupannya berubah. “Ketika itu kami sedang menikmati kopi bersama komandan batalyon di Arsal, tiba-tiba sebuah peluru sniper menewaskan Sersan Dirani,” kata al-Khouri dengan kedua tangannya gemetar sambil menyulut sebatang rokok. “Tiba-tiba, terdengar banyak sekali suara tembakan di mana-mana,” katanya mengisahkan.

“Seorang rekan tentara datang kepadaku, dengan peluru yang sudah menembus ususnya dan ia menangis, ‘Aku tidak mau mati. Aku ingin ketemu anak-anakku’,” kata al-Khoury sambil dilihat ibunya mendengarkan cerita horor tersebut.

Lalu seorang tentara lainnya yang membantu memberikan tembakan perlindungan supaya rekan-rekan lainnya menyelamatkan diri malah tertembak di bagian kepala tepat di depan al-Khoury dan rekan-rekannya.

Tidak lama kemudian, al-Khoury menemukan dirinya sudah dikepung oleh puluhan pejuang kelompok jihadis. Al-Khoury mengatakan, “Mereka bersenjata lengkap dan mengenakan penutup kepala. Saya masih ingat tidak kurang dari 20 orang militan berada di sekitar saya, salah seorang dari mereka mengatakan berjanji tidak akan membunuh saya jika saya mau menyerah.”

Seorang militan lain merampas ponselnya sebelum kemudian mendorong al-Khoury keluar dan memasukkannya ke dalam sebuah truk bersama para tawanan lainnya. “Mereka menginjakkan kakinya ke kami, namun kami berterima kasih mereka tidak memukul kami,” katanya.

Ia lalu dibawa ke sebuah masjid, dan awalnya mengira bahwa “cobaan berat” yang tengah menimpa dirinya itu hanya sebentar. Namun suara pertempuran kembali menggelegak, seorang bersenjata kembali ke arah kami dan mengatakan bahwa dirinya (al-Khoury) bersama yang lain akan dipindahkan ke tempat yang aman.

Hari Pertama di Dalam Gua
Tempat itu merupakan sebuah gua yang menjadi tempat pertama di mana al-Khoury dan rekan-rekannya sesama tentara Lebanon ditempatkan, di samping ada sejumlah tempat lainnya di mana ia berstatus sebagai tawanan perang selama 16 bulan.

Al-Khoury bersama tawanan lainnya menghabiskan mayoritas waktu mereka dalam hari-hari yang panjang itu dalam keadaan tanpa penerangan, kadang-kadang dengan mata tertutup selama berjam-jam, kecuali saat makan dan saat di kamar mandi.

Untuk menjaga semangat hidup mereka, mereka saling ngobrol dengan bisik-bisik antar sesama mereka tentang keluarga. Al-Khoury sendiri meninggalkan anaknya Michael berusia 4 tahun, bersama istrinya yang sedang hamil. Kemudian, istrinya melahirkan anak kedua, Andrew, saat dirinya masih ditawan. “Saya bersyukur kepada Tuhan, hidup saya sangat bahagia sekarang,” kata istrinya sambil menoleh ke arahnya.

Mujahidin Ajarkan Islam
Beberapa orang pejuang terkadang berbicara pada mereka, bahkan mengizinkan mereka sekedar untuk jalan-jalan keluar. Mereka juga diajarkan dengan Hukum Islam, kata al-Khoury meskipun ia sendiri seorang Kristen tidak dipaksa untuk berpindah keyakinan.

Sementara ada beberapa militan lainnnya menerapkan taktik psikologis seperti menyalakan petasan untuk menakut-nakuti para tawanan sehingga diri mereka mengira akan mati.

Tawanan Syiah Dieksekusi
Setelah masa penahanan mereka menginjak satu bulan lebih sedikit, JN mengeksekusi tawanan pertama mereka, bernama Mohammed Hammiya. Setelah eksekusi itu, “Saya menangis dua hari berturut-turut,” kata al-Khoury.

Tentara kedua, Ali al-Bazzal, penganut Syiah sebagaimana Hammiya, ditempatkan terpisah dari yang lainnya dan (kata al-Khoury) nyaris tidak mau makan dan hampir dieksekusi. Sementara para tawanan lainnya dipindahkan ke gua yang lain, lalu ke sebuah rumah, dan sempat beberapa kali mereka terlihat ada semangat dan secercah harapan bahwa mereka akan dibebaskan.

Mimpi Menjadi Nyata
Al-Khoury sering bermimpi pulang ke rumah, dan mengatakan berada jauh terpisah dengan anak-anaknya merupakan “siksaan” yang paling sulit ia rasakan.

Akhirnya, pada pekan lalu mereka diberitahu bahwa proses negosiasi sudah mencapai kata sepakat. Mereka pun dipersilakan mandi, lalu mengenakan pakaian yang bersih dan parfum untuk bersiap-siap.

Saat melewati pos pemeriksaan terakhir sebelum terjadi penukaran tawanan, mereka diberitahu bahwa negosiasi batal dan al-Khoury pun sempat terguncang, ia hanya bisa berdoa.

Hari yang Dinantikan Pun Tiba
Lalu proses (negosiasi) kembali berlanjut, akhirnya para tawanan tersebut diserahkan dan dipindahkan ke dalam mobil ambulan milik Palang Merah yang kemudian membawa mereka ke sebuah pos pemeriksaan militer.

Selama perjalanan, di dalam mobil ambulan George al-Khoury meminjam HP untuk menelepon keluarganya. Orang pertama yang ia sapa adalah ibunda tercinta.

Terjadi percakapan:
“Ibu, ini saya George” kata al-Khoury
“George siapa?” tanya ibunya setengah tidak percaya.
“Kubilang padanya, ‘Ini anakmu’, dan ibuku pun histeris bahagia,” kata al-Khoury tersenyum.

Sumber: http://www.kiblat.net/2015/12/13/jadi-tahanan-ini-kisah-tentara-lebanon-berinteraksi-dengan-mujahidin/
Share on Google Plus

About Kerja Admin

Beritayaman.blogspot.com adalah Media Online penyaji berita terbaru dan terkini Dunia Timur Tengah. Selamat Menikmati Sajian Info Kami.
    Blogger Comment
    Facebook Comment