Gagah dan Garang, Rusia Sesungguhnya Alami Kehancuran di Dalam Negeri

Harga Minyak Anjlok
Rubel Rusia, babak belur disebabkan harga minyak yang semakin melemah, dimana pada hari Senin turun ke level terendah dan memecahkan rekor sepanjang masa terhadap euro.

Minyak, andalan ekonomi Rusia, baru-baru harganya ini anjlok di bawah $ 30 per barel, harga terendah selama 13-tahun terakhir. Rubel juga di bawah tekanan dari sanksi ekonomi yang dikenakan Barat pada Rusia untuk keterlibatannya dalam krisis Ukraina.

Rusia mengalami defisit anggaran sebesar 3 persen dari PDB tahun ini, dan pemerintah sedang berencana untuk memotong 10 persen dari anggaran federal yang dirancang dengan harga minyak US $ 50 per barel.

Semua kementerian Rusia diharapkan menyajikan laporan usulan pemotongan anggaran mereka pada akhir bulan dengan asumsi akan mampu memotong 500 miliar rubel ($ 6.300.000.000) beban pemerintah, kata Menteri Keuangan Anton Siluanov.

Perdana Menteri Dmitry Medvedev, dalam komentar yang disiarkan televisi pada hari Senin, mengatakan, pemerintah menemukan harga minyak yang “sulit untuk diprediksi” dan bahwa Rusia harus menggunakan momen ini untuk diversifikasi ekonomi terlepas dari minyak dan melakukannya secepat mungkin.

Rusia Sesungguhnya Alami Kehancuran

Nilai Tukar Mata Uang
Mata uang nasional Rusia turun 1,8 persen pada 79 rubel terhadap dolar pukul 05:00 waktu Moskow (1400 GMT), ini adalah tingkat terendah di bursa valuta asing sejak Desember 2014.

Rubel jatuh ke angka terendah terhadap euro karena Bank Sentral menetapkan nilai tukar resmi di angka 85 rubel terhadap euro pada hari Senin.

Krisis Ekonomi
Dampak dari krisis ekonomi sekarang terlihat dalam kehidupan sehari-hari di Rusia. Banyak warga Rusia sekarang hidup di bawah garis kemiskinan. Jumlah orang yang mencari bantuan meningkat. DW Philipp Anft melaporkan dari Moskow.

Di sebuah gereja di pusat Moskow di daerah perbelanjaan terkenal di Tverskaya Street, tampak di depan pintu gereja, lebih dari seratus orang menunggu makanan gratis.

Orang-orang dengan mantel usang, wajah lelah dan troli penuh barang-barang di belakangnya: Satu yang dapat dilihat adalah banyak dari mereka yang kehilangan tempat tinggal. Dengan suhu yang sangat dingin, termometer menunjukkan minus 15 derajat Celcius.

Salah satu orang yang menunggu adalah Ilya. Dia berusia pertengahan 50-an dan mengenakan jaket merah dan topi hitam. Dia baru saja kehilangan pekerjaannya. “Saya tukang penempel kertas di dinding kamar, sekarang saya menganggur,” katanya. “Aku tidak punya pilihan lain selain untuk datang ke sini. Untungnya, ada inisiatif seperti ini yang memberikan kita makanan gratis.” Ilya adalah anggota kelompok yang membutuhkan bantuan : orang-orang yang telah jatuh dari sistem sebagai akibat dari krisis ekonomi di Rusia.

Harga Makanan sangat mahal
Ekonomi Rusia tidak berjalan lancar. Harga minyak internasional yang rendah sangat berdampak buruk bagi keuangan negara, yang merupakan komoditas ekspor utama. Ekspor minyak dan gas merupakan salah satu sumber pendapatan utama. Sanksi perdagangan yang diberlakukan Barat sebagai respon terhadap pencaplokan Krimea, dan kontra-sanksi Rusia yang diberlakukan Moskow, semakin memperburuk situasi.

Baru-baru ini, Menteri Keuangan Rusia, Anton Siluanov, mengumumkan pemotongan 10 persen belanja pemerintah secara keseluruhan. Presiden Rusia Vladimir Putin telah berulang kali menyatakan bahwa krisis ekonomi telah berakhir, tetapi menurut survei terbaru, lebih dari setengah warga Rusia berpendapat situasi semakin memburuk. Inflasi semakin tinggi; nilai tukar rubel terhadap dolar dan euro telah mengalami penurunan tajam.

Harga bahan makanan khususnya telah menjadi jauh lebih mahal. Kantor statistik di Moskow telah mencatat kenaikan harga hampir 13 persen dibandingkan dengan akhir 2014 untuk biaya belanja rumah tangga Rusia. Harga beberapa produk, seperti ikan kaleng, acar mentimun dan mayones, bahkan sudah naik 30 persen. Belanja tersier, seperti mobil baru atau liburan ke luar negeri, semakin berkurang.

Situasi keseluruhan telah memburuk
Ketika gereja kecil di pusat kota Moskow membuka pintu untuk memberi makan orang miskin, banyak warga berdesak-desakan dan semua orang ingin menjadi yang pertama.

Natalia Markova yang mengatur distribusi makanan untuk organisasi Moskow “Drusya na ulitse,” yang berarti “teman di jalan”, menyatakan menemukan bahwa situasi keseluruhan telah memburuk dan sebagai akibatnya jumlah warga yang membutuhkan bantuan semakin meningkat. “Tahun ini, kami memiliki lebih banyak tamu dari biasanya,” kata Markova. “Ada banyak orang yang memiliki sebuah apartemen dan pekerjaan tetapi pendapatannya begitu sedikit dan kita harus membantu mereka dengan makanan.”

Salah satunya adalah Denis, yang berusia pertengahan 20-an.  Dia dulu tinggal di jalanan, katanya, tapi sekarang kondisinya lebih baik. Dia bekerja sebagai kurir dan sekarang mampu membayar sewa untuk sebuah ruangan. Tapi sewanya tinggi. Dia mengatakan, “Saya bisa makan hanya ketika ada cukup uang. Kadang-kadang dua kali sehari, kadang-kadang hanya sekali.” Tanpa bantuan organisasi tersebut, katanya, hidup akan lebih sulit.

Silahkan salahkan semua orang – kecuali Putin
Jika Anda meminta orang Rusia untuk menyebutkan penyebab penderitaan mereka, Anda mendapatkan banyak jawaban. Beberapa mengatakan itu adalah perbuatan tokoh bayangan dalam pemerintahan, sementara yang lain menyalahkan dunia bisnis yang tidak berperasaan. Karina, misalnya, mengatakan administrasi publik yang harus disalahkan, karena telah melupakan orang miskin dan  hampir tak ada yang peduli dengan orang-orang yang tidak punya uang. Tapi ada satu orang, yang tidak bisa disalahkan: Vladimir Putin! “Dia adalah presiden yang baik,” kata Karina, “Tapi dia tidak bisa mengurus semuanya.”

Sumber: middleeastupdate.net
Share on Google Plus

About Kerja Admin

Beritayaman.blogspot.com adalah Media Online penyaji berita terbaru dan terkini Dunia Timur Tengah. Selamat Menikmati Sajian Info Kami.
    Blogger Comment
    Facebook Comment