Imperium Persia, Munculnya Syiah dan Konsep Ahlul Bait

Imperium Persia, Munculnya Syiah dan Konsep Ahlul Bait

Pendahuluan

Salah satu faktor munculnya aliran aliran sesat dalam tubuh umat islam adalah faktor eksternal. Yaitu berupa usaha dan konspirasi dari musuh musuh Islam untuk melemahkan umat Islam. Salah satu caranya adalah dengan memunculkan aliran aliran yang menyimpang. Sehingga dengan adanya aliran-aliran tersebut umat Islam akan menjadi lemah karena jauh dari ajarannya, sekaligus umat Islam akan terpecah belah. Terkhusus aliran Syiah, selain usaha kaum Yahudi yang dipelopori oleh Abdullah bin Saba, kemunculannya juga tidak lepas dari usaha orang-orang Persia yang ingin balas dendam terhadap umat Islam atas runtuhnya impremium Persia.

Impremium persia dan agama majusi

Sebagaimana kita ketahui bersama, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di utus, ada dua impremium besar yang disegani oleh bangsa arab. Yaitu impremium Romawi yang beragama nashrani, dan Impremium persia yang beragama majusi. Agama majusi merupakan agama terakhir di persia yang menggabungkan ajaran-ajaran agama Persia sebelumnya seperti mazda, manawiyah, mazdikiyah dan yang lainnya.

Ajaran agama Majusi dikenal dengan penyembahannya kepada matahari, bulan, air, dan api. Mereka meyakini bahwa tuhan pencipta ada dua; tuhan yang menciptakan kebaikan yaitu cahaya dan yang menciptakan keburukan yaitu kegelapan. Kedua tuhan tersebut selalu bermusuhan hingga hari kiamat. Namun mereka mengatakan bahwa tidak mungkin kedua duanya azali atau tanpa permulaan, yang azali hanyalah cahaya, sedang kegelapan adalah tuhan yang diciptakan oleh cahaya. Mereka juga meyakini adanya hulul dan tanasukhul arwah (reinkarnasi). Dan begitulah, keyakinan mereka penuh dengan takhayul dan khurofat.

Keyakinan orang orang persia juga terpengaruhi dengan keyakinan orang orang yahudi, nashrani, dan budha yang dalam beberapa periode sejarah mereka banyak yang tinggal di negara persia. Diantara pengaruh yahudi paling menonjol adalah gerakan rahasia atau gerakan bawah tanah dan taqiyyah (menyembunyikan keyakinan). Semua agama agama di persia, baik itu mazdikiyah, manawiyah, Zardisytiun menyebarkan ajaran mereka lewat gerakan bawah tanah, maka tidak heran jika kita juga melihat orang orang syiah sekarang begitu lihai dalam menyebarkan ajarannya melalui gerakan yang terselubung, dan kita juga mengenal ajaran taqiyah yang begitu erat dipegang oleh orang orang Syiah.

Adapun pengaruh agama Nasrani yang paling menonjol adalah keyakinan trinitas dan hulul. Begitu juga dengan agama Budha, pengaruh sangat terlihat sekali dari penyembahan terhadap berhala yang menjadi ciri hal agama orang orang Persia yang juga merupakan ajaran agama Budha.

Para pemuka agama di Persia dibagi menjadi kabilah-kabilah. Yang mana tiap kabilah memiliki pemuka masing-masing. Bahkan mereka menjadikan para pemuka mereka sebagai wakil Allah di muka bumi, yang mana mereka diciptakan untuk membantu tuhan tuhan mereka. Maka mereka pun mengkultuskan pemuka kabilah mereka, bahkan meyakini bahwa dzat ketuhanan telah menyatu dalam jasad pemuka kabilah mereka.

Hal inilah yang mendorong mereka untuk mengkultuskan ahlul bait, bukan karena cinta dengan ahli bait keturunan Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tapi karena merupakan pradigma berpikir mereka yang mengkultuskan kabilah.

Kemudian kalau kita melihat sejarah persia, kehidupan orang orang persia sangat penuh dengan fitnah dan banyaknya demonstrasi, kudeta, perang saudara dan revolusi berdarah. Dan tidak jarang dalam sengketa tersebut seorang saudara membunuh saudaranya sendiri, seorang ayah membunuh anaknya tanpa kasih sayang, hanya karena masalah yang sepele. Maka tidak heran jika hari ini kita juga melihat hal yang serupa. Bagaimana suatu negri yang disitu banyak orang orang syiah, selalu terjadi keributan dan kekacauan disana. Lihat saja contoh di Suriah, Libanon, Yaman, Irak, dan negeri-negeri lainnya.

Kerajaan persia dan umat islam

Di hadapan impremium Persia ketika itu, bangsa arab merupakan bangsa yang rendah. Mereka melihat bangsa Arab sebagai budak, yang tidak bermartabat sama sekali. Maka ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus, dan beliau mengirim surat kepada Kisra atau raja Persia, dia pun tanpa ragu menyobek surat tersebut dengan penuh penghinaan dan perendahan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kisra menyobek surat tersebut sambil berkata, “bagaimana dia menulis surat ini kepadaku padahal dia adalah budakku?”. Maka Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun berdoa semoga Allah menyobek kerajaan Kisra.

Waktu terus berjalan dan agama islam kian menyebar menguasai jazirah arabia, hingga tiba waktunya umat islam untuk menaklukan negri persia. Ketika itu Sa’ad bin Abi Waqqash merupakan pemimpin yang ditunjuk oleh Khalifah Umar bin Khattab sebagai pemimpin pasukan umat islam untuk menaklukan Persia. Dan merupakan kebiasaan ketika itu diantara dua pasukan yang hendak bertempur untuk saling mengirim utusan untuk berdialog. Maka Sa’ad pun mengutus beberapa orang dari sahabat untuk menghadap kisra menawarkan ajaran Islam.

Ketika para utusan itu datang menjumpai raja persia (Yazdajird), orang orang pun keluar melihat mereka dengan penampilannya yang sangat sederhana. Mereka heran, bagaimana orang orang arab pedalaman dengan penampilan seperti itu menantang impremium persia dengan segala kekuatan adidayanya?!

Maka terjadilah dialog seru yang panjang antara yazdajird dengan utusan kaum muslimin yang diwakili oleh Nu’man bin Muqrin. Terlihat sekali dalam dialog tersebut bagaimana pandangan yazdajird yang penuh peremehan terhadap kaum muslimin. Kemudian dialog pun diakhiri dengan kemarahan Yazdajird hingga terjadinya pertempuran dahsyat yang dinamakan perang Qodisiyah, yang akhirnya menjadi parit kuburan kerajaan persia!!

Tuduhan orientalis

Orang orang orientalis barat merasa heran dengan keruntuhan bangsa persia di bawah kaum muslimin. Mereka pun berusaha mencari sebab kekalahan bangsa Persia. Hingga akhirnya mereka mengatakan bahwa bangsa persia runtuh karena banyaknya konflik internal yang menyebabkan kelemahan dalam tubuh mereka. Mereka mengatakan bahwa bangsa persia sudah tua dan diambang keruntuhannya ketika berhedapan dengan kaum muslimin.

Padahal kalau kita melihat sejarah, justru ketika kaum muslimin berhadapan dengan bangsa Persia, mereka sedang dalam kondisi kuat kuatnya, yaitu setelah kembali mereka bersatu dalam satu pemimpin yaitu Yazdajir setelah sebelumnya mereka diperselisihkan dengan kepemimpinan yang berbeda. Mereka justru memiliki kekuatan tempur yang tangguh yang ditakuti oleh musuh musuh mereka. Bahkan kaum muslimin pun benci untuk bertempur melawan mereka. Kaum muslimin lebih memilih untuk berhadapan dengan bangsa arab atau bangsa romawi ketimbang berhadapan dengan bangsa persia.

Hal ini juga terlihat dari peperangan kaum muslimin melawan persia yang memakan waktu lebih dari tujuh tahun lamanya. Dan telah syahid dari kaum muslimin dua puluh ribu lebih. Khalid bin Walid pun telah menyaksikan kehebatan orang orang persia dalam pertempuran. Beliau berkata, “sungguh aku telah berperang pada hari mu’tah, dan telah terpotong di tanganku sembilan pedang, dan aku tidak melihat suatu kaum yang seperti orang orang persia, dan tidak aku jumpai dari orang orang persia yang seperti bangsa Ulayis”.

Maka kita katakan bahwa tidak ada sebab kemenangan kaum muslimin atas bangsa Persia kecuali karena faktor keimanan. Kaum muslimin menghancurkan mereka dengan penuh kesabaran sambil berharap salah satu dari dua kebaikan; kemenangan atau mati syahid!!

Pasca kekalahan telak Persia di hadapan kaum muslimin, tidak ada pilihan lain bagi orang-orang Persia kecuali menyerah dan masuk Islam. Namun ternyata tidak banyak dari mereka yang bagus keislamannya. Sebagian besar masuk Islam karena terpaksa, bahkan sebagian dari mereka masuk Islam dengan rencana membuat makar dan menusuk Islam dari dalam.

Pembunuhan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu

Orang-orang Persia begitu paham, bahwa tokoh utama di balik kehancuran kerajaan mereka adalah Amirul Mu’minin Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu. Mereka pun -bekerjasama dengan orang Romawi dan Yahudi- berencana untuk membunuh Amirul Mu’minin Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu.

Untuk melancarkan rencananya, orang-orang Persia selalu berusaha untuk bisa tinggal di kota Madinah, tempat keberadaan Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu. Awalnya Khalifah selalu menolak karena tidak suka dengan keberadaan orang Persia dan Romawi yang tinggal di Madinah. Namun mereka selalu mencari cara dan berusaha keras untuk bisa tinggal di Madinah, hingga akhirnya ada sebagian dari orang-orang Persia dan Romawi yang di izinkan untuk bisa tinggal di Madinah.

Diantara mereka yang diizinkan tinggal di Madinah adalah Hurmuzan salah satu mantan komandan perang Persia yang terkenal. Juga Fairuz atau yang lebih dikenal dengan julukan Abu Lu’luah Al Majusi. Abu Lu’luah pada asalnya merupakan salah satu tawanan perang kaum muslimin yang dijadikan budak oleh Mughiroh bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu. Dikarenakan kemahirannya dalam berbagai bidang, Mughiroh bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu meminta izin kepada Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu untuk mengizinkannya supaya dia bisa tinggal di Madinah. Tentu dengan harapan kaum muslimin mendapatkan banyak manfaat dari kemahirannya. Karena alasan ini maka Khalifah pun memberikan Izin kepadanya untuk tinggal di Madinah. Namun ternyata, justru Abu Lulu’ah inilah yang nantinya menjadi tokoh utama pembunuhan Khalifah.

Setelah mereka di izinkan untuk tinggal di Madinah, mereka pun tinggal menunggu waktu untuk menjalankan rencana mereka, membunuh Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu. Hingga pada tahun 23 Hijriyah, pada saat sholat subuh terjadilah pembunuhan Khalifah oleh Abu Lu’lu’ah Al Majusi.

Ketika itu baru saja Khalifah Umar bin Khattab bertakbir, hingga tiba tiba Abu Lu’lu’ah menusukkan belati bermata dua ke tubuh beliau. Kemudian tidak cukup disitu, dia pun menyerang para sahabat yang lain dengan belati tersebut hingga tertusuk tiga belas sahabat dan meninggal tujuh diantaranya. Ketika para sahabat akhirnya berhasil menangkapnya, Abu Lu’luah pun menusukan belati tersebut ke tubuhnya sendiri, dan dia pun mati bunuh diri.

Adapun Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu, ketika tertusuk langsung mengambil tangan Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘Anhu untuk menggantikan beliau menjadi imam sholat. dan setelah sholat diselesaikan dengan ringan, Khalifah pun meminta kepada Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘Anhum untuk melihat siapa yang telah membunuhnya. Setelah ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma melihatnya, beliaupun segera kembali dan mengabarkan kepada Khalifah bahwa yang membunuhnya adalah Abu Lu’luah al Majusi. Khalifah Umar pun berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan seorang yang sujud kepada Allah”.

Kemudian Khalifah Umar Radhiyallahu ‘anhu di bawa ke rumah dan diberi minum. Namun ternyata, setiap kali air diminum langsung keluar lagi melalui luka tusukannya. Maka beliau pun mengetahui bahwa ajal beliau sudah dekat. orang-orang pun mendatangi beliau dan memberikan pujian yang baik kepada beliau. Adapun beliau setelah mengetahui ajalnya sudah semakin dekat, meminta kepada para sahabat untuk dihitung hutang hutangnya dan segera dilunasi. Beliaupun juga meminta izin kepada Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘Anha untuk diperbolehkan dikuburkan di samping kuburan Rosulullah Shallalllahu Alaihi Wasallam dan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, maka beliaupun di izinkan.

Selain Abu Lu’luah, para sahabat pun mengetahui siapa saja dalang pembunuh khaliafah. Yaitu melalui kesaksian seorang sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Pagi hari sebelum pembunuhan Khalifah, Abdurrahman melihat Abu Lu’lu’ah, Hurmuzan, dan Jafinah seorang Nashroni sedang berunding dengan berbisik bisik. Yang ketika mereka tiba tiba melihat Abdurrahman terjatuh dari mereka belati yang memiliki dua mata. Maka setelah apa yang terjadi dengan Khalifah, para sahabat pun menindak mereka semua.

Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu dan Abu Lu’luah Al Majusi di mata Syiah

Setelah meninggalnya Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu, ternyata orang-orang syiah majusi belum juga berhenti memerangi beliau. Hingga saat ini kita masih saja menyaksikan kebiasaan mereka mencela dan menghina Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu.

Bahkan kalau kita membaca kitab-kitab mereka, kita akan menemukan banyak sekali hujatan kepada dan pengkafiran kepada para sahabat nabi secara umum dan khusunya kepada Abu Bakar dan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Sebagai contoh, disebutkan dalam Roudhotul Kafi, “Dua orang tersebut (yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khattab Rodhiyallahu ‘anhuma) meninggalkan dunia dan belum bertaubat serta tidak mengingat apa yang telah mereka lakukan terhadap Amirul Mu’minin (Ali Bin Abi Thalib) –(yaitu berupa merampas kekuasaan menurut mereka), maka bagi mereka berdua laknat Allah, malaikat, dan semua orang”

Disisi lain, kita justru menyaksikan bagaimana mereka bagitu bersimpati kepada pembunuh Khalifah Umar bin Khattab, yaitu Abu Lu’luah. Bahkan mereka memberikan gelar kepadanya sebagai As Syahid (seorang yang mati syahid) dan Baba Syuja’ud Din (tokoh pemberani). Merekapun menjadikan kuburannya -yang bertempat di kota Kasyan negara Iran- sebagai tempat ibadah yang dikeramatkan.

Fakta bahwa orang-orang syiah begitu membenci Amirul Mu’minin Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu dan justru membela Abu Lu’luah seorang majusi menambah keyakinan kita bahwa Syiah bukan bagian dari agama Islam. Namun merupakan sempalan dari agama majusi yang menyusup dalam tubuh umat islam.

Setelah orang-orang Majusi berhasil membunuh Khalifah Umar bin Khattab melalui tangan Abu Lu’luah, mereka belum berhenti sampai disitu. Di setiap waktu mereka selalu mencari celah untuk berbuat makar. Hingga akhirnya mereka pun menemukan kesempatan emas untuk kembali menjalankan aksinya. Yaitu pada saat terjadinya sengketa politik antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan pada tahun 36 hijriah. Namun sebelum kita membahas lebih lanjut bagaimana aksi orang orang majusi memanfaatkan momentum tersebut untuk berbuat makar, terlebih dahulu kita membahas hakekat fitnah pada masa sahabat. Terutama perang Siffin yang seriangkali dijadikan ajang oleh orang-orang Syiah untuk mencela para sahabat secara umum dan Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘Anhu secara khusus.

Fitnah pada masa sahabat

Fitnah yang terjadi pada masa sahabat merupakan realitas yang tidak bisa dipungkiri. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam -melalui bimbingan wahyu tentunya- jauh jauh hari sudah memprediksikan akan munculnya fitnah tersebut. Dan dengan terbunuhnya Umar bin Khattab pintu fitnah pun terbuka. Dimulai dengan pembunuhan Utsman oleh para pemberontak, kemudian terjadinya sengketa antara kubu Ali bin Abi Thalib dan Ummul Mu’minin Aisyah yang berujung dengan perang jamal, diteruskan dengan perang siffin antara kubu Ali dan Muawiyah, hingga munculnya orang orang khowarij yang kemudian di perangi oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhum Ajma’iin.

Pada dasarnya membicarakan fitnah yang terjadi di antara para sahabat bukan merupakan manhaj Ahlusunnah Wal Jama’ah. Karena ditakutkan akan menjurus kepada penurunan derajat para sahabat yang telah di muliakan oleh Allah ta’ala. Ketika Umar bin Abdul Aziz ditanya tentang peperangan yang terjadi di antara para sahabat, beliau menjawab, “Allah ta’ala telah mensucikan tangan kita dari pertumpahan darah tersebut, kenapa kita tidak mensucikan lisan kita dari membicarakannya”

Namun jika memang dibutuhkan untuk membicarakan tentang fitnah tersebut maka hendaknya dilakukan dengan benar. Harus bersandar kepada riwayat-riwayat yang sahih dengan pemahaman yang benar. Jikapun ditemukan riwayat yang sohih menurut timbangan ilmu hadits, namun secara zahir isi dari riwayatnya memojokan para sahabat, maka hendaklah maknanya dibawa ke pemahaman yang sebaik mungkin terhadap para sahabat.

Perang siffin

Salah satu bentuk fitnah yang terjadi pada masa sahabat adalah peperangan yang melibatkan dua kelompok besar dari kaum muslimin. Yaitu perang antara kubu Ali bin Abi Thalib dengan pasukannya dari Hijaz yang ditambah dengan pasukan dari Irak melawan kubu Muawiyah bin Abi Sufyan dan pengikutnya penduduak Syam. Perang ini dikenal dengan perang Siffin, dinisbatkan kepada tempat dimana terjadinya peperangan.

Mayoritas sahabat melihat bahwa perang ini merupakan fitnah. Yang mana berdiam diri dan tidak terlibat lebih baik serta lebih selamat. Sehingga karenanya dari sekian banyak jumlah pasukan yang terlibat peperangan, hanya sedikit diantara mereka yang merupakan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Berkata Ibnu Sirin Rahimahullah, “ketika fitnah bergejolak, jumlah sahabat Nabi ketika itu berjumlah sepuluh ribuan orang, namun tidak ada yang terlibat ke dalamnya (fitnah) kecuali seratus, atau bahkan tidak sampai tiga puluh”

Sebab terjadinya perang siffin

Pasca tragedi pembunuhan Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu oleh para pemberontak, kaum muslimin pun membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pengganti Utsman bin Affan. Ketika itu para sahabat seluruhnya bersepakat untuk menindak para pembunuh khalifah Utsman bin Affan, namun mereka berselisih pendapat kapan waktu yang tepat untuk menindak mereka.

Sebagian sahabat yang dipelopori oleh Muawiyah bin Abu Sufyan, Ubadah bin Shamit, Abu Darda dan yang lainnya berpendapat bahwa Khalifah harus menuntut balas atas kematian Utsman saat itu juga. Sementara Ali bin Abi Thalib selaku khalifah dan mayoritas sahabat berpendapat bahwa saat itu bukan waktu yang tepat untuk menuntut balas atas pembunuhan Utsman bin Affan. Mereka memandang ada hal yang lebih urgen untuk terlebih dahulu dilakukan. Yaitu menyatukan kembali kaum muslimin dan menciptakan keamanan kembali yang hampir hilang di kota Madinah ketika itu.

Apalagi menangani para pelaku atas pembunuhan Utsman bukan perkara yang mudah. Perlu tinjauan yang mendalam. Sementara para pelaku pembunuhan belum diketahui secara rinci tiap person dari mereka. Ditambah sebagian pelaku sudah kabur dari kota madinah. Maka terburu buru dalam menyikapi hal ini hanya akan menambah kekacauan dalam kota Madinah.

Terjadinya perang siffin

Akibat perselisihan ini maka beberapa bulan kemudian terjadilah perang Siffin. Muawiyah bersikeras tidak mau membaiat Ali bin Abi Thalib hingga menindak para pembunuh Utsman bin Affan, dengan hujjah bahwa beliau adalah Wali Utsman bin Affan. Sedangkan khalifah Ali pun tetap keukeuh dengan pendapatnya. Beliau meminta kepada Muawiyah untuk membaiat terlebih dahulu baru kemudian membicarakan pembunuhan Utsman bin Affan.

Maka terjadilah peperangan besar antara kedua pasukan. Peperangan pun berlangsung cukup lama dan memakan jumlah korban yang tidak sedikit. Hingga ketika pasukan Muawiyah mulai terlihat lemah, mereka pun meminta untuk berdamai dan memutuskan perkara mereka (tahkim) dengan Al Qur’an. Khalifah Ali pun menyetujuinya. Maka mereka pun berkumpul di suatu tempat bernama Daumatul Jandal untuk mencari kata sepakat dengan berhukum kepada Al Qur’an. Namun ternyata mereka tidak juga mencapai kata sepakat. Hingga perang usai pun, Muawiyah masih belum mau membaiat Ali dan tetap bersama pengikutnya penduduk syam. Begitu juga dengan Ali bin Abi Thalib yang kemudian kembali disibukan dengan perkara lain. Yaitu munculnya fitnah khawarij.

Perang Siffin merupakan hasil Ijtihad

Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Muawiyah dengan menyelisihi Ali bin Abi Thalib bukanlah karena beliau haus kekuasaan. Bukan juga karena beliau merasa lebih baik dari pada Ali bin Abi Thalib. Beliau sebagai Wali dari Utsman bin Affan hanya ingin agar Khalifah menindak para pembunuh Utsman pada saat itu juga. Dan ini murni merupakan ijtihad beliau. Yang mana seorang mujtahid jika dia benar mendapat dua pahala, dan jika salah dia mendapat satu pahala.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika Abu Muslim Al Khaulani dan beberapa orang datang kepada Muawiyah. Mereka berkata, “anda menyelisihi Ali, apakah anda merasa sebanding dengannya?” Muawiyah pun menjawab, “demi Allah tidak! sesungguhnya aku tahu bahwasanya Ali lebih utama dariku, dan beliau lebih berhak mengambil urusan (khilafah) ini daripadaku, akan tetapi bukankah kalian mengetahui bahwasanya Utsman terbunuh secara Dhalim, sementara saya adalah sepupunya, sesungguhnya saya hanya ingin menuntut atas darah utsman …”

Maka meskipun mereka saling berperang, namun mereka tidak saling membenci atau bahkan mengkafirkan. Masih ada rasa kasing sayang diantara mereka. Diriwayatkan bahwa ketika peperangan berlangsung, ada beberapa orang dari pihak Ali yang mencela penduduk syam, maka Ali pun mengingkari perbuatan mereka dan berkata, “jangan kalian mencela penduduk syam, mereka sangat banyak jumlahnya, dan sesungguhnya diantara mereka ada orang orang mulia, diantara mereka ada orang orang mulia, diantara mereka ada orang orang mulia”

Bahkan mereka sedih dan menyesal ketika melihat jumlah korban yang begitu banyak dari kedua belah pihak. Ali bin Abi Thalib berkata kepada putra beliau Hasan, “wahai hasan bapakmu tidak menyangka bahwa urusannya akan sampai seperti ini, bapakmu ini ingin sekirannya mati dua puluh tahun sebelum kejadian ini”

Dan ketika nantinya Khalifah Ali meninggal di tangan seorang khawarij Abdullah bin Muljam, Muawiyah pun yang mendengar berita tersebut menangis. Ketika istri beliau bertanya, “engkau kemarin memeranginya dan sekarang engkau menangisinya?” beliau pun menjawab, “sesungguhnya aku menangis karena manusia kehilangan ilmu, kelembutan, keutamaan, dan kebaikannya”

Pada tulisan yang lalu kita telah membahas bagaimana terjadinya polemik antara para sahabat yang berujung dengan peperangan antara dua kelompok besar dari kaum muslimin. Kita pun melihat bagaimana persaudaraan tetap terjaga diantara mereka. Bahwa peperangan yang terjadi tidak membuat mereka saling mencela apalagi saling mengkafirkan.

Terjadinya polemik tersebut tentunya merupakan hal yang lumrah terjadi, melihat bahwa para sahabat -dengan segala kemuliaan dan keutamaan yang diberikan kepada mereka-, tetap merupakan manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Namun kita meyakini bahwa dosa yang mereka lakukan telah dihapuskan oleh Allah ta’ala. Entah karena mereka sudah bertaubat, atau karena kebaikan yang mereka lakukan, atau karena keutamaan mereka sebagai orang orang yang terdahulu masuk agama islam, atau bisa juga terhapuskan oleh syafaat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mana tentu saja para sahabat adalah orang yang paling berhak mendapatkannya.

Itu berlaku untuk kesalahan yang berujung dosa. Lalu bagaimana dengan kesalahan yang sifatnya ijtihad sebagaimana yang terjadi pada perang siffin? Yang mana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjanjikan dua pahala bagi yang ijtihadnya benar dan satu pahala bagi yang ijtihadnya salah?!

Orang majusi mengambil kesempatan

Namun pandangan tersebut akan berbeda jika yang melihat adalah orang orang picik yang memang ingin berbuat jahat. Orang-orang Majusi persia melihat bahwa perselisihan yang terjadi adalah kesempatan emas untuk kembali menjalankan aksi mereka. Mereka pun memutuskan untuk berada di pihak Ali bin Abi Thalib. Bukan karena mereka memandang kebenaran berada di pihak Ali! Bukan! Mereka mendukung Ali karena mereka ingin menggunakan posisi Ali sebagai menantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Yang dengan itu mereka ingin memunculkan propoganda berupa cinta kepada Ahlul Bait, yaitu keluarga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Siapa diantara kaum muslimin yang tidak mencintai keluarga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam?!

Dari konsep cinta ahlul bait ini mereka ingin menghidupkan kembali ajaran Majusi yang mengkultuskan sebuah keluarga. Sebagaimana kita ketahui, salah satu ajaran agama majusi adalah keharusan adanya sebuah keluarga yang berisi orang orang ma’shum, yang terbebas dari dosa baik yang besar maupun kecil. Keluarga inilah yang mengatur urusan agama rakyatnya. Maka dengan konsep cinta ahlul bait, mereka pun bisa menghidupkan ajaran lama mereka. Makanya konsep ahlul bait bukan hanya sekedar mencintai ahlu bait saja, tapi juga mengkultuskan dan menganggap bahwa para imam imam mereka yang merupakan keturunan Rosulullah Shallallalhu ‘Alaihi Wasallam adalah sebuah kultur keluarga (Ahlu bait) yang memiliki sifat ishmah (terjaga dari dosa). Perkataan mereka pun dianggap laksana wahyu yang harus diikuti.

Hal ini bertambah kuat dengan menikahnya cucu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu Husain bin Abi Thalib dengan putri Yazdajir (raja Persia). Yazdajir dan putrinya ketika itu telah menjadi tawanan kaum muslimin. Karena putri dari seorang raja, kaum muslimin pun menikahkannya dengan Husain bin Ali bin Abi Thalib. Dengan pernikahan tersebut tentunya akan lahir orang orang yang berdarah persia dari keturunan Husain Radhiyallahu ‘Anhu. Sementara orang-orang Majusi adalah orang orang yang sangat fanatik dengan bangsa mereka. Maka selain menghidupkan kembali ajaran Majusi, berdirinya mereka di sisi Ali bin Abi Thalib dan putranya Husain tentunya juga didasarkan kefanatikan mereka kepada darah persia.

Peran orang Yahudi

Ternyata bukan hanya orang orang Majusi saja yang berdiri di barisan Ali untuk berbuat makar. Di saat yang sama orang orang Yahudi yang dipelopori Abdullah bin Saba pun berdiri di satu barisan. Merekapun bersekongkol dan bekerja sama untuk melakukan konspirasi di tubuh kaum muslimin.

Setelah syahidnya Ali bin Abi Thalib ditangan seorang khawarij Abu Muljam, orang orang Majusi dan Yahudi terus menerus dengan gigih memprovokasi para pendukung Ali untuk memerangi bani Umayyah dengan dalih cinta kepada Ahlu bait. Mereka juga terus berusaha memunculkan aliran aliran kebatinan yang sesuai dengan ideologi Majusi Persia. Hingga merekapun berhasil memunculkan aliran Sabaiyah dan Kisaniyah.

Sabaiyah dinisbatkan kepada Abdulllah bin Saba yang mengajak kepada penuhanan kepada Ali bin Abi Thalib. Ketika Ali bin Abi Thalib masih hidup, sebagian mereka berkata kepada Ali, “engkau adalah engkau”. Ali pun bertanya, “siapa saya?”, mereka menjawab, “engkau adalah pencipta”. Maka ali pun menyuruh mereka bertaubat, namun mereka tidak mau bertaubat. Maka Ali pun membuat api yang sangat besar dan membakar mereka. Sementara Abdullah bin Saba, sebagian sejarawan mengatakan bahwa dia tidak ikut dibakar, namun diasingkan ke negri Madain. Dan setelah Ali bin Abi Thalib syahid terbunuh, dia pun menyatakan bahwa Ali tidaklah meninggal dunia.

Selain meyakini ketuhanan Ali bin Abi Thalib, orang orang sabaiyah juga meyakini bahwasanya Ali adalah orang yang telah mendatangkan awan untuk menurunkan hujan. Bahwa halilintar pada hakekatnya merupakan suara Ali, dan kilatannya merupakan senyuman Ali. Mereka juga mengatakan bahwasanya Ali akan kembali lagi turun ke bumi untuk mengisi bumi dengan keadilan.

Adapun kisaniyah adalah para pengikut kisan yang merupakan budak dari Ali bin Abi Thalib. Mereka memiliki keyakinan tanashukul arwah, hulul, dan raj’ah setelah kematian. Mereka juga mengatakan bahwa ilmu kaisan mencakup seluruh ilmu. Dan kaisan telah mengambil ilmu tersebut dari dua penghulu yaitu Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu dan putra beliau Muhammad bin Hanafiyah Rahimahullah.

Melalui dua aliran kebatinan tersebut lahirlah aliran aliran kebatinan yang lain, seperti mukhtariyah, hasyimiyah, bayaaniyah, dan romaziyah. Yang mana meskipun nama mereka bermacam macam, pada hakekatnya ajaran mereka sama.

Pada masa Bani Umayyah aliran aliran tersebut diberantas oleh tangan kekuasaan Bani Umayyah. Orang orang pun mengira bahwa mereka telah punah dan tidak akan muncul kembali. Namun hal tersebut ternyata keliru. Karena jangan lupa, bahwa orang orang persia sangat mudah memainkan gerakan bawah tanah. Jikapun gerakan yang muncul dipermukaan telah habis, maka masih ada gerakan bawah tanah yang akan kembali muncul jika saatnya telah tiba.

Sumber: Muslim.or.id
Share on Google Plus

About Kerja Admin

Beritayaman.blogspot.com adalah Media Online penyaji berita terbaru dan terkini Dunia Timur Tengah. Selamat Menikmati Sajian Info Kami.
    Blogger Comment
    Facebook Comment