Lama Tak Terdengar Kabar, AQAP Yaman Menjadi Lebih Berbahaya dan Kuat!

AQAP Yaman Menjadi Lebih Berbahaya dan Kuat

Perang Yaman - Ada satu konskuensi atau efek tak terduga yang belum pernah dibayangkan sebelumnya akibat perang di Yaman, bahwa saat ini al-Qaidah mampu menyelenggarakan roda pemerintahan sebuah model-miniatur negara, dengan mendapatkan gelontoran dana berlimpah dari penguasaan terhadap bank sentral di tingkat lokal dan juga dari pungutan pajak pelabuhan setempat.

Sempat hampir terpinggirkan menyusul euphoria kemunculan kelompok ISIS di Suriah dan juga tekanan akibat kampanye militer negara-negara koalisi di dalam negeri Yaman, kelompok jihadis AQAP cabang al-Qaidah kini justru mampu secara terbuka menjalankan roda pemerintahan miniatur negara mereka sendiri dengan modal US$ 100 juta (sekitar IDR 1,3 T) yang berhasil mereka peroleh setelah menguasai bank sentral dan juga pendapatkan dari hasil pengelolaan pelabuhan terbesar ketiga di Yaman.

Jika kelompok ISIS beribukota di Raqqa-Suriah, maka ibukota “negara” al-Qaidah ada di Mukalla – Yaman, sebuah kota pelabuhan di bagian selatan Yaman dengan populasi penduduk sekitar 500.000 jiwa. Menariknya, di Mukalla para pejuang al-Qaidah menghapus pajak bagi para penduduk setempat. Mereka juga mengoperasikan kapal berkecepatan tinggi yang dilengkapi dengan senjata roket peluncur granat untuk menarik uang dari kapal-kapal yang melintas, membuat video propaganda mengenahi pembangunan infrastruktur jalan dan suplai obat-obatan & kebutuhan medis untuk berbagai rumah sakit.

“Imperium Ekonomi”

Banyak diplomat dan para pejabat aparat keamanan Yaman menggambarkan fenomena AQAP cabang al-Qaidah ini sebagai “imperium ekonomi”, demikian juga dengan para ketua suku dan masyarakat lokal di Mukalla. Kemunculan AQAP merupakan sesuatu di luar dugaan dan terlihat begitu mencolok sebagai konskuensi dari intervensi militer pimpinan Arab Saudi di Yaman. Operasi militer negara-negara Arab yang didukung oleh AS itu, betul-betul membantu AQAP (Al Qaeda in the Arabian Peninsula ) berkembang menjadi lebih kuat dan lebih kaya dari yang pernah ada selama ini sejak kemunculan mereka pertama kali hampir 20 tahun yang lalu.

Para pejabat pemerintah Yaman dan pebisnis lokal memperkirakan, di samping memperoleh dana segar dari penguasaan deposit bank, AQAP juga berhasil memperoleh UD$ 1,4 juta (IDR 18,2 M) dari perusahaan minyak nasional, termasuk pendapatan mencapai US$ 2 juta (IDR 26 M) per hari dari hasil pajak barang dan minyak yang datang ke pelabuhan tersebut.

Berintegrasi dengan Masyarakat dan Wilayahnya

Mujahidin AQAP menyatakan bahwa mereka memiliki 1.000 orang pejuang di Mukalla saja, menguasai garis pantai sepanjang 600 km (373 mil), serta membaur & bisa diterima oleh masyarakat Yaman di selatan yang selama ini merasa terpinggirkan oleh para elit negara yang korup di bagian utara selama bertahun-tahun.

Dengan menerapkan taktik yang sama yang digunakan ISIS untuk menguasai wilayah mereka di Suriah & Iraq, AQAP telah berhasil memperluas wilayah kekuasaannya. Yang ditakuti oleh Barat, bahwa kelompok jihadis yang berada di balik serangan akurat yang mematikan terhadap Charlie Hebdo pada tahun 2015 itu, berulangkali berusaha menjatuhkan pesawat komersial Amerika, dan pelan namun pasti mereka akan menularkan ideologi Islamis-Jihadis kepada penduduk setempat.

“Saya memilih al-Qaidah tetap di sini, jadi Al-Mukalla sebaiknya tidak perlu dibebaskan (diserang),” kata seorang warga berusia 47 tahun. “Situasinya stabil, lebih stabil dari wilayah manapun yang sudah “merdeka” di Yaman. Pilihan selain al-Qaidah akan jauh lebih parah,” imbuhnya.

Arab Saudi Fetakompli

Sementara Arab Saudi saat ini disibukkan dengan upaya melepaskan diri dari belitan konflik di Yaman setahun pasca negara kerajaan tersebut melibatkan diri secara langsung dengan melakukan invasi ke tengah perang sipil di negara tetangganya itu. Pada mulanya, tujuan Riyadh adalah untuk melawan pengaruh serta campur tangan musuh bebuyutan mereka, Iran, yang menggoyang sejumlah ibukota negara Arab lainnya. Untuk itu, Arab Saudi fokus dengan penyerangan terhadap target Syiah Hautsi yang sebelumnya sempat merebut sebagian wilayah Yaman di bagian utara dan yang bersekutu dengan Iran.

Tetapi meskipun sudah menjatuhkan ribuan bom melalui serangan udara, Arab Saudi dan sekutu mereka negara-negara Teluk lainnya gagal secara maksimal menekan Hautsi di ibukota Sanaa. Diperkirakan 6.000 orang tewas di mana separuh jumlahnya merupakan warga sipil. Gencatan senjata sementara diberlakukan mulai tanggal 10 April, antara pemerintah yang diakui dunia internasional dukungan Arab Saudi dengan kelompok Hautsi .

Dalam sebuah pernyataannya baru-baru ini, melalui kedutaan Arab Saudi di Washington, beberapa pejabat negara kerajaan itu mengatakan bahwa kampanye militer mereka telah menyasar persembunyian dan tempat-tempat yang aman bagi teroris di Yaman.

Lebih Kuat dan Lebih Berbahaya

Meskipun demikian, sumber daya dan kekuatan AQAP terus berkembang. Seorang pejabat Amerika yang menangani kontra-terorisme mengatakan,  AQAP masih merupakan cabang/afiliasi al-Qaidah yang paling berbahaya. Amerika telah meluncurkan serangan mematikan terhadap kelompok jihadis tersebut pada tanggal 22 Maret yang lalu, menewaskan sekitar 50 pejuang jihadis Yaman  di sebuah kamp militer di luar kota Mukalla.

“Keahlian kelompok itu dalam membuat bom serta ambisi tradisional mereka untuk melancarkan serangan dengan taktik-taktik terbaru dan lebih kompleks semakin mempertegas ancaman tersebut,” kata pejabat AS tersebut.

Seorang pejabat senior pemerintah Yaman mengatakan, perang melawan Syiah Hautsi telah menyediakan situasi & kondisi yang cocok bagi ekspansi al-Qaidah.” Mundurnya unit-unit militer pemerintah dari basis-basis mereka di selatan, membuka peluang bagi al-Qaidah untuk mendapatkan berbagai jenis senjata canggih terkini dalam jumlah yang sangat besar, termasuk rudal panggul atau yang bisa dioperasikan oleh personal dan kendaraan-kendaraan militer bersenjata.

Demikian juga, di awal invasi pasukan koalisi dalam rangka memerangi Hautsi ternyata membawa efek yang tak terduga, yaitu “memudahkan elemen-elemen al-Qaidah untuk terus berekspansi memperluas pengaruh mereka di lebih dari dua wilayah,” imbuhnya.  “Inilah mengapa al-Qaidah hari ini menjadi lebih kuat dan lebih berbahaya, dan sekarang kami bekerja bersama pasukan koalisi untuk menekan elemen-elemen kelompok itu.. dan upaya ini akan terus berlanjut hingga mereka bisa dihancurkan.”

Invasi Koalisi Arab Saudi Ciptakan Ruang Kosong

Tidak lama seminggu setelah Arab Saudi melancarkan operasi Decisive Storm melawan Hautsi  pada bulan Maret 2015 lalu, pasukan militer Yaman dilaporkan tidak lagi terlihat di jalan-jalan kota Mukalla, dan mereka bergerak pergi ke arah barat menuju daerah pertempuran.

Akhirnya, kota ditinggalkan begitu saja tanpa ada sistem pertahanan apapun, sehingga memudahkan puluhan pejuang AQAP mengambil alih gedung pemerintah serta membebaskan 150 rekan mereka dari penjara pusat.  Para tawanan yang berhasil dibebaskan itu termasuk Syeikh Khaled Batarfi, seorang pemimpin senior al-Qaidah. Sejumlah gambar/foto yang diposting secara online memperlihatkan Batarfi sedang duduk santai di dalam istana presiden. Batarfi terlihat ceria dan dalam situasi yang aman terkendali sementara ia sambil menelepon.

Para pemimpin suku di propinsi tetangga menyampaikan kepada Reuter, bahwa dalam situasi vakum tersebut, markas militer diduduki oleh para pejuang, dan tidak lama setelah itu wilayah Yaman bagian selatan kemudian dibanjiri dengan berbagai jenis senjata canggih terkini. Bahan pembuat bom berdaya ledak sangat tinggi (high explosive) semacam C4, termasuk rudal anti-pesawat semuanya ada dan tinggal pilih.

Dua orang pejabat senior keamanan Yaman mengatakan, persis seperti kelompok ISIS ketika berhasil merebut bank sentral di Mosul di bagian utara Iraq, AQAP juga berhasil mengambil alih sebuah bank sentral cabang lokal setempat di Mukalla, dengan keuntungan bersih diperkirakan mencapai US$ 100 juta (IDR 1,3 T). “Jumlah sebesar itu merepresentasikan perolehan finansial terbesar hari ini, yang cukup untuk membiayai operasional gerakan dalam level mereka selama ini, paling tidak untuk jangka  selama sepuluh tahun,” kata pejabat itu.

Dokumen Ekspor dan Langkah Politik Jihadis

Ada indikasi AQAP tidak hanya butuh kaya saja, tetapi juga menginginkan pengakuan resmi sebagai sebuah “negara”. Dalam hal ini, mereka gagal memperoleh ijin dari pemerintah Yaman untuk melakukan ekspor minyak mentah pada bulan Oktober serta untuk berbagi keuntungan. Demikian keterangan menurut versi seorang pemimpin suku dan dua pejabat senior pemerintah.

Pemerintah Yaman menolak, karena khawatir bahwa kesepakatan itu bisa dianggap sebagai pengakuan secara de-facto terhadap kelompok yang telah di-blacklist secara internasional. “Al-Qaidah mengirim seorang mediator kepada pemerintah Yaman supaya mereka mau mendengar dan menyetujui kesepakatan tersebut,” kata ketua suku di Yaman bagian selatan kepada Reuter.

“Tawarannya adalah, mereka membutuhkan dokumen-dokumen resmi dari pemerintah untuk bisa menjual dan mengekspor minyak mentah secara legal, untuk itu mereka bersedia hanya mengambil bagian 25 persen keuntungan, sementara 75 persennya untuk pemerintah.” Namun tetap, pemerintah “resmi” Yaman menolak tawaran tersebut, demikian menurut keterangan dua orang ketua suku dan seorang mantan menteri transportasi bernama Badr Basalamah.

“Ya, hal itu betul-betul terjadi,” kata Basalamah saat berbicara via telepon dari ibukota Arab Saudi, Riyadh. “Pemerintah sama sekali menolak berurusan atau membuat kesepakatan tersebut, karena hal itu berarti memberikan otorisasi dan legitimasi kepada Al-Qaidah”.

Sumber: Kiblat.net
Share on Google Plus

About Kerja Admin

Beritayaman.blogspot.com adalah Media Online penyaji berita terbaru dan terkini Dunia Timur Tengah. Selamat Menikmati Sajian Info Kami.
    Blogger Comment
    Facebook Comment